Rabu, 19 November 2014

MENITI JALAN KEPUSTAKAWANAN

KULIAH TAMU
MENITI JALAN KEPUSTAKAWANAN
Oleh : BLASIUS SUDARSONO
Pembelajar kepustakawanan kepada Kappa Sigma Kappa indonesia

KEPUSTAKAWANAN INDONESIA
Empat pilar penyangga   
     1. Kepustakawanan adalah panggilan hidup   
     2. Kepustakawanan adalah semangat hidup 
     3. Kepustakawanan adalah karya pelayanan 
     4.  Kepustakawanan adalah profesional
Lima daya utama 
     1. Berpikir kritis, analitis dan kritis 
     2. Berkemampuan membaca 
     3.  Berkemampuan menulis 
     4. Berkemampuan wirausaha 
     5. Menjunjung etika
Tiga sasaran antara 
     1. Menjadi cerdas (bright) 
     2. Menjadi kaya (rich) 
     3. Menjadi benar (right)
Tujuan akhir
Manusia paripurna berguna bagi sesama
Pola pikir triadik ( kebertigaan )
Pendekatan triadik : 
    a. Berpikir logis, analisis, dan kritis 
     b. Hidup dalam konsep ruang dan waktu 
     c. Berpendekatan sistematik
Itu semua adalah tiga elemen pendekatan berpikir yang dilakukan Blasius Sudarsono.
Beliau menyodorkan janji pustakawan muda Indonesia yang berbunyi:
JANJI PUSTAKAWAN MUDA INDONESIA
Kami calon pustakawan dan pustakawan muda Indonesia
Mengaku berprofesi sebagai pustakawan indonesi yang adalah warga bangsa dan negara indonesia.
Kami calon pustakawan dan pustakawan muda Indonesia
Sebagai profesional senantiasa berusaha memahami, mengahayati, dan mengembangkan jati diri pustakawan indonesia, berkarya bagi bangsa dan negara indonesia, untuk mencapai cita-cita bangsa dan negara indonesia
Kami calon pustakawan dan pustakawan muda Indonesia
Mewaspadai, menolak, dan memberantas segala hal yang merugikan bahkan dapat mengahancurkan bangsa dan negara indonesia.

PUSTAKAWAN & KEPUSTAKAWANAN
Pustakawan adalah mahkluk hidup yang disebut sebahai manusia. Driyarkara menyebut manusia yang tidak hanya ‘apa’ melainkan juga ‘siapa’ itu sebagai ‘peribadi’. Dengan demikian ‘ pustakawan’ adalah peribadi. Menarik melihat ‘pustakawan’ dan ‘peribadi’ ini dari sudut tata bahasa. Jika dua kata itu diturunkan dengan tambahan ke – an , maka ‘pustakawan’ akan menjadi ‘kepustakawanan’ sedang ‘peribadi’ akan menajadi ‘kepribadian’. Pada hal ‘kepustakawan’ adalah juga ‘peribadi’, sehingga dapat diharapkan ada kesetaraan konsep ‘pustakawan dan kepustakawanan’ dengan konsep ‘peribadi dan kepribadian’. Logikanya pemikiran driyakara tentang ‘peribadi dan kepribadia’ berlaku juga untuk konsep ‘pustakawan dan kepustakawanan’.
Pokok pikiran Driyarkara tentang pribadi dan kepribadian adalah:
·         Pribadi manusia supaya betul-betul menjadi Pribadi harus menjadi Kepribadian.
·                                 Pribadi yang tidak menjadi kepribadian itu merupakan pribadi yang terjerumus, Pribadi yang tidak setia terhadap Tuhan, terhadap masyarakat dan dirinya sendiri, Pribadi yang kehilangan keluhuran dan kehormatannya.
·         Kepribadian adalah perkembangan dari Pribadi. Perkembangan yang betul-betul menjalankan kedaulatan dan kekuasaannya atasdirinya sendiridan tidak dijajah oleh kenafsuan-kenafsuan, dan dunia material.
·         Jika ini tercapai maka Pribadi betul-betul “bersemayam” dalam dirinya sendiri.
Tiga benih unggul kepustakawanan memiliki karakter ASKETIS:
        1. Jujur.
        2. Sederhana.
        3. Rendah hati.
Dengan bekal ini seorang pustakawan dengan sadar, rela, dan senag hati melakukan pelayanan. Konsep pelayanan adalah menempatkan diri sutu tingkat lebih rendah dari yang dilayani, namun tanpa kahilangan harga diri.
Kode etika profesi termasuk ranah etika terapan. Merupakan upaya untuk mengatur tingkah laku moral suatu kelompok khusus melalui ketentuan tertulis yang diharapkan akan diprgang teguh oleh seluruh kelompok itu (bertens, 2002). Profesi adalah suatu moral kommunity (masyarakat moral) yang memiliki cita2 dan nilai bersama. Lebih lanjut bertens mengatakan bahwa: mereka yang membentuk suatu profesi disatukan juga karena latarbelakang pendidikan yang sama dan bersama – sama memiliki keahlian yang tertutup bagi orang lain. Dengan demikian profesi menjadi suatu kelompok yang mempunyai kekuasaan tersendiri dan karena itu mempunyai tangung jawab khusus. Karena memiliki monopoli atas suatu keahlian tertentu, selalu ada bahaya profesi menutup diri bagi orang luar dan menjadi suatu kalangan yang suka ditembus. bagi klaien yang mengunakan jasa tertentu seperti itu dapat mengakibatkan kecurigaan jangan – jangan ia dipermainkan. Kode etik dapat mengimbangi segi negatif profesi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar