Kamis, 13 November 2014

automasi perpustakaan



IMPLEMENTASI AUTOMASI PERPUSTAKAAN SEKOLAH
Oleh
Eva Devita Emilia Siswanti
Mahasiswa D3 Perpustakaan UM
LATAR BELAKANG
Perpustakaan merupakan tempat penyimpanan buku-buku, majalah, dan informasi aktual lainnya, yang dibutuhkan pada saat seseorang ingin menambah pengetahuan dari tulisan tersebut.Kehadiran perpustakaan bagi masyarakat bukan hanya menambah pengetahuan saja tetapi juga dapat membantu mencipatakan teknologi sederhana di dalam melakukan pekerjaannya.Konsep perpustakaan yang komvensioanal seperti di atas telah berubah secara dramatik pada beberapa tahun belakangan ini. Di negara-negara yang sudah maju, informasi yang ada pada suatu perpustakaan dapat di akses di rumah, di kantor, di ruang kuliah, atau di tempat-tempat lain, dan pada waktu kapanpun kita mau. Hal ini dapat terjadi karena perpustakaan konvensioanal, yang sebelumnya hanya merupakan tempat penyimpanan buku-buku yang secara pasif menunggu pembaca, menjadi suatu pusat informasi yang secara proaktif berada dimana-mana.

Automasi perpustakaan adalah sebuah proses pengelolaan perpustakaan dengan menggunakan bantuan teknologi informasi (TI).  (Nur: 2007)  Dengan bantuan teknologi informasi maka beberapa pekerjaan manual dapat dipercepat dan diefisienkan. Selain itu proses pengolahan data koleksi menjadi lebih akurat dan cepat untuk ditelusur kembali. Dengan demikian para pustakawan dapat menggunakan waktu lebihnya untuk mengurusi pengembangan perpustakaan karena beberapa pekerjaan yang bersifat berulang (repetable) sudah diambil alih oleh komputer.Automasi Perpustakaan bukanlah hal yang baru lagi dikalangan dunia perpustakaan. Konsep dan implementasinya sudah dilakukan sejak lama, namun di indonesia baru populer baru-baru ini setelah perkembangan Teknologi Informasi di Indonesia mulai berkembang pesat.
Perpustakaan sebagai institusi pengelola informasi merupakan salah satu bidang penerapan teknologi informasi yang berkembang dengan pesat.Perkembangan dari penerapan teknologi informasi bisa kita lihat dari perkembangan jenis perpustakaan yang selalu berkaitan dengan dengan teknologi informasi, diawali dari perpustakaan manual, perpustakaan terautomasi, perpustakaan digital atau cyber library. Ukuran perkembangan jenis perpustakaan banyak diukur dari penerapan teknologi informasi yang digunakan dan bukan dari skala ukuran lain seperti besar gedung yang digunakan, jumlah koleksi yang tersedia maupun jumlah penggunanya. Kebutuhan akan TI sangat berhubungan dengan peran dari perpustakaan sebagai kekuatan dalam pelestarian dan penyebaran informasi ilmu pengetahuan dan kebudayaan yang berkembang seiring dengan menulis, mencetak, mendidik dan kebutuhan manusia akan informasi.

TUJUAN DAN MANFAAT
a.     Tujuan
§  Untuk meningkatkan pelayanan, mempercepat, mengefisienkan dan mengakurasipekerjaan pustakawan.
§  Untuk memperluas dalam mengakses sebuah informasi antar perpustakaan.
§  Untuk memenuhi tuntutan perkembangan dalam menguasai TI.
§  Untuk menyebarluaskan informasi yang ada.
b.     Manfaat
§  Dengan adanya otomasi perpustakaan makapekerjaan pustakawan lebih cepat dan efisien.
§  Dalam proses pengolahan data koleksi menjadi lebih akurat dan cepat untuk ditelusur kembali.
§  Memberikan layanan yang lebih baik kepada pengguna perpustakaan.
§  Dapat mempercepat proses temu kembali informasi di perpustakaan.
§  Citra perpustakaan jadi lebih meningkat karena memberikan layanan yang bagus.
§  Memperlancar proses pengolahan, pengadaan bahan pustaka, dan komunikasi antar perpustakaan.
AUTOMASI PERPUSTAKAAN
Automasi perpustakaan adalah sebuah proses pengelolaan perpustakaan dengan menggunakan bantuan teknologi informasi (TI).  (Nur: 2007)  Dengan bantuan teknologi informasi maka beberapa pekerjaan manual dapat dipercepat dan diefisienkan. Selain itu proses pengolahan data koleksi menjadi lebih akurat dan cepat untuk ditelusur kembali. Dengan demikian para pustakawan dapat menggunakan waktu lebihnya untuk mengurusi pengembangan perpustakaan karena beberapa pekerjaan yang bersifat berulang (repetable) sudah diambil alih oleh komputer.Automasi Perpustakaan bukanlah hal yang baru lagi dikalangan dunia perpustakaan. Konsep dan implementasinya sudah dilakukan sejak lama, namun di indonesia baru populer baru-baru ini setelah perkembangan Teknologi Informasi di Indonesia mulai berkembang pesat.
INFRASTUKTUR
Sebuah Sistem Automasi Perpustakaan pada umumnya terdiri dari 3 (Tiga) bagian, yaitu : (a) Pangkalan Data, (b) User/Pengguna, dan (c) Perangkat Automasi. Ketiga komponen automasi tersebut dijelaskan sebagai berikut:
a.      Pangkalan Data
Setiap perpustakaan pasti tidak akan terlepas dari proses pengelolaan koleksi. Tujuan dari proses ini untuk memperoleh data dari semua koleksi yang dimiliki dan kemudian mengorgani-sirnya dengan menggunakan kaidah-kaidah ilmu perpustakaan. Pada sistem manual, proses ini dilakukan dengan menggunakan bantuan media kertas atau buku. Pencatatan pada kertas atau buku merupakan pekerjaan yang sangat mudah namun juga merupakan suatu proses yang tidak efektif karena semua data yang telah dicatat akan sangat sulit ditelusur dengan cepat jika jumlah sudah berjumlah besar walaupun kita sudah menerapkan proses peng-indeks-an. Dengan menggunakan bantuan teknologi informasi, proses ini dapat dipermudah dengan memasukkan data pada perangkat lunak pengolah data seperti : CDS/ISIS (WINISIS), MS Access, MySQL. Perangkat lunak ini akan membantu kita untuk mengelola pangkalan data, ini menjadi lebih mudah karena proses pengindeksan akan dilakukan secara otomatis dan proses penelusuran informasi akan dapat dilakukan dengan cepat dan akurat karena perangkat lunak ini akan menampilkan semua data sesuai kriteria yang kita tentukan.
b.     User/Pengguna
Pengguna otomasi adalah pustakawan, teknisi, dan anggota perpustakaan.Sebuah sistem otomasi tidak terlepas dari pengguna sebagai penerima layanan dan seorang atau beberapa operator sebagai pengelola sistem. Tugas pustakawan adalah melayanai pengguna dan mengatur perpustakaan misalnya mengadakan kerja sama atua mengadakan kegiatan- kegiatan di perpustakaan, Pada sistem otomasi perpustakaan terdapat beberapa tingkatan operator atau teaga teknisi tergantung dari tanggung jawabnya, yaitu :  Supervisor, Operator Administrasi, Operator Pengadaan dan Pengolahan, Operator Sirkulasi,  Pemustaka adalah orang yang membutuhkan perpustakaan otomasi perpustakan harus memenuhi kebutuhan dari penggunanya agar tujuan perpustakaan tercapai.
c.      Perangkat Automasi
Perangkat automasi yang dimaksud disini adalah perangkat atau alat yang digunakan untuk membantu kelancaran proses automasi. Perangkat ini terdiri dari 2 bagian, yaitu : 1. Perangkat Keras, dan 2. Perangkat Lunak Automasi. Tanpa adanya dua perangkat ini secara memadai maka proses automasi tidak akan dapat berjalan dengan baik.
1.     Perangkat Keras (Hardware).
Sebelum memulai proses automasi, sebuah perangkat keras perlu disiapkan. Yang dimaksud perangkat keras disini adalah sebuah komputer dan alat bantunya seperti Printer, Barcode, Scanner, dan sebagainya. Empat buah komputer sudah cukup untuk digunakan di dalam memulai proses automasi pada perpustakaan kecil dalam hal ini perpustakaan sekolah. Sedangkan untuk perpustakaan besar, diperlukan lebih banyak komputer dan pelengkapnya agar pelayanan kepada pengguna menjadi lancar.Spesifikasi  minimal biasanya tergantung dari software yang digunakan. Misalnya, software senayan (program automasi perpustakaan buatan Diknas RI) minimal menggunakan pentium III.Sebab semakin banyak tampilan berbasis grafis (gambar) maka semakin membutuh-kan spesifikasi yang tinggi.
2.     Perangkat Lunak Automasi (Software).
Sebuah perpustakaan yang hendak menjalankan proses otomasi maka harus ada sebuah perangkat lunak sebagai alat bantu. Perangkat lunak ini mutlak keberadaannya karena digunakan sebagai alat pembantu mengefisienkan dan mengefektifkan proses.
Ada 3 (tiga) cara untuk memperoleh perangkat lunak ini, antara lain :
·       Membangun sendiri dengan bantuan seorang developer perangkat lunak. Jika instansi Anda mempunyai tenaga programer maka langkah pertama ini bisa dilakukan karena dapat menghemat biaya membeli perangkat lunak otomasi.
·       Menggunakan perangkat lunak gratis atau opensource, misalnya : CDS/ISIS, WinISIS, KOHA, dsb. Perangkat lunak ini bisa didapatkan dari internet karena didistribusikan secara gratis kepada kalangan perpustakaan. Walaupun gratis perangkat lunak ini masih banyak kekurangan dan masih harus dimodifikasi lebih lanjut agar memenuhi kebutuhan di tempat kerja.
·       Membeli perangkat lunak komersial beserta training dan supportnya yang dibangun oleh pihak ketiga. Perangkat lunak komersial, merupakan hasil riset pengembangnya dan mudah untuk diimplementasikan karena hanya perlu dilakukan perubahan fitur sedikit atau tidak sama sekali. Training dan Support selama beberapa periode waktu juga akan diberikan oleh vendor secara penuh sehingga pengguna dapat langsung menggunakan tanpa harus bersusah payah lagi. Pilihan ini dapat dipilih jika terdapat dana untuk membeli perangkat lunak. Suatu software dikembangkan melalui suatu pengamatan dari suatu sistem kerja yang berjalan, untuk menilai suatu software tentu saja banyak kriteria yang harus diperhatikan.

SUMBER DAYA MANUSIA PERPUSTAKAAN AUTOMASI
Pustakawan dalam mengelola automasi perpustakaan harus sesuai dengan kemampuan dan harus mengetahui kebutuhan dari pengguna automasi perpustakaan sekolah.Hal Ini bertujuan agar sistem otomasi terintegrasi dan sesuai dengan kebutuhan perpustakaan sekolah.
Hal-hal yang harus dilakukan oleh pustakawan dalam mengautomasikan perpustakaan
a.        Pustakawan dapat memehami ruang lingkup dan unsur dari automasi perpustakaan.
b.        Pustakawan dapat memahami dan dapat mengapresiasi pentingnya melaksanakan analisis sistem yang menyeluruh sebelum merencanakan desain sistem 
c.        Pustakawan memahami dan bisa mengapresiasi manfaat analisis sistem dan desain, implementasi evaluasi dan maintenance.
d.        Memahami proses evaluasi software sejalan dengan proposal sebelum menentukan sebuah sistem otomasi.
e.        Pustakawan dapat mengapresiasi pentingnya pelatihan untuk staf dan keterlibatan mereka dalam seluruh proses kerja. (Subrata, 2009).
Kriteria administrator automasi perpustakaan sekolah
Oleh karenanya seseorang yang ditunjuk sebagai administrator sistem harus:
Ø  Operator dapat menguasai komputer dan jaringan computer sehingga dapat membuat jaringan yang sesuai kebutuhan perpustakaan sekolah dengan dana yang tersedia.
Ø  Operator dapat menguasai aplikasi yang diterapkan di perustkaan sekolah terutama bagian yang dia kerjakan.
Ø  Menguasai operating system sehingga dapat membuat dan mengubah sistem sistem bila ada perubahan kebutuhan.
Ø  Operator mempunyai pengetahuan perpustakaan secara keseluruhan terutama dalam bidang teknologi informasi.
Ø  Operator memahami tatakerja/manajemen perpustakaan yang ada dalam perpustakaan..sekolah.
Ø  Operator mempunyai komitmen terhadap tugas sehingga dalam pekerjaanya mempunyai etos kerja yang tinggi dan tujuan yang jelas.
Ø  Operator mampu bekerja sama dengan organisasi atau perorangan sehingga pekerjaanya lebih fleksibel dan mudah ditempatkan dimana saja.
Ø  Operator mempunyai wawasan yang luas tertama dalam lingkup subjek bahan pustaka yang dihadapi dan teknologi informasi.
Ø  Operator selalu bersedia mengembangakan ilmu dan ketrampilannya baik formal maupu  informal.

Pada sistem automasi perpustakaan terdapat beberapa tingkatan operator tergantung dari tanggung jawabnya, yaitu :
·       Supervisor.
Supervisor yaitu operator dengan wewenang tertinggi. Supervisor dapat mengakses dan mengatur beberapa konfigurasi dari sistem dan dapat melakukan proses auditing.
·       Operator Administrasi
Operator administrasi mengatur proses:
1.     pendaftaran anggota berupa identitas anggota, id anggota, masa berlaku, institusi, tipe keanggtaan, dan waktu pendaftaran.
2.     pelaporan berupa daftar anggota, pelaporan pengadaan dan lain-lain.
3.     Beberapa proses yang digunakan untuk urusan administrasi misalnya pembuatan kartu, ekspor dan impor data

·       Operator Pengadaan dan Pengolahan.
Operator ini mengatur proses pengadaan dan pengolahan koleksi bahan pustaka yaitu:
1.     Proses pemasukan data berupa identitas buku, klasifikaasi, nomor registrasi, dan pengaturan bahan pustaka lainnya.
2.     Proses finishing misalnya cetak barcode, nomor register, pencetakan catalog, penampilan opac, lidah buku dan label punggung.

·       Operator Sirkulasi.
Operator ini berfungsi untuk melayani pengguna yang melakukan peminjaman, pengembalian, memperpanjang bahan pustaka, sejarah peminjaman, dan preservasi.

·       Operator Referensi
o   Mencarikan bahan referensi di internet, melayani korespondensi via email, via forum di newsgroup, bimbingan pengguna, dll.
o   Mengatur aturan transasi peminjaman, anggota perpustakaan, buku yang sedang di pinjam
o   Kegiatan stock opname, mengecek buku yang hilang,
o   Laporan kegiatan yang hilang, informasi seputar peminjaman, informasi keanggoataan, hasil rekaptulasi perpustakaan, daftar peminjaman, memperlihatkan aktifitas staf, Mengelola kegiatan serial,
o   Mengubah sistem otomasi, menentukan wewenang user,

PENTUP
a.     Kesimpulan
Automasi perpustakaan adalah sebuah proses pengelolaan perpustakaan dengan menggunakan bantuan teknologi informasi (TI).  (Nur: 2007)  Dengan bantuan teknologi informasi maka beberapa pekerjaan manual dapat dipercepat dan diefisienkan. Selain itu proses pengolahan data koleksi menjadi lebih akurat dan cepat untuk ditelusur kembali. Dengan demikian para pustakawan dapat menggunakan waktu lebihnya untuk mengurusi pengembangan perpustakaan karena beberapa pekerjaan yang bersifat berulang (repetable) sudah diambil alih oleh komputer.
Beberapa hal yang harus diketahui dan dikerjakan oleh pustakawan dalam mengautomasikan perpustakaannya adalah:
Ø  Paham akan maksud dan ruang lingkup dan unsur dari AP (automasi perpustakaan)
Ø  Paham dan bisa mengapresiasi pentingnya melaksanakan analisis sistem yang menyeluruh sebelum merencanakan desain system
Ø  Paham akan dan bisa mengapresiasi manfaat analisis sistem dan desain, implementasi, evaluasi dan maintenance.
Ø  Paham akan proses evaluasi software sejalan dengan  proposal sebelum menentukan sebuah system.
Ø  Paham akan dan bisa mengapresiasi pentingnya pelatihan untuk staf dan keterlibatan mereka dalam seluruh proses kerja Menurut Arif  ,  Sebuah Sistem automasi Perpustakaan pada umumnya terdiri dari 3 (Tiga) bagian, komponen tersebut yaitu : Pangkalandatauser/pengguna, dan perangkat  automasi.
Ø  Perangkat automasi terdiri dari 2 (dua) bagian, yaitu : perangkat keras, dan perangkat lunak automasi.
     
















DAFTAR RUJUKAN

Nur, Hassan. 2007. Otomasi Perpustakaan.(Online), (http://librarycorner.org/2007/02/28/otomasi-Perpustakaan/html) diakses pada 15 September 2014.
Arif, Ikhwan. 2003.  Konsep dan Perencanaan dalam Automasi Perpustakaan. (Online), (http://aurajogja.wordpress.com/2006/07/11/otomasi-perpustakaan/html) diakses pada 15 september 2014.
Subrata, Gatot. 2009. Automasi Perpustakaan. ( Online), (http://library.um.ac.id/images/stories/pustakawan/kargto/Automasi%20Perpustakaan.pdf) diakses pada 15 September 2014.
Kosasih, Aa. Otomasi Perpustakaan Sekolah. (Online), (http://library.um.ac.id/images/stories/pustakawan/karsasih/Otomasi%20Perpustakaan%20Sekolah.pdf) diakses pada 15 September 2014.

Eva Devita Emilia Siswanti
120213314493
Inter Library Loan atau istilah dari Peminjaman antar Perpustakaan
Pinjaman antara perpustakaan merupakan perkhidmatan yang disediakan oleh Perpustakaan bagi mendapatkan buku yang anda perlukan tetapi tiada dalam koleksi Perpustakaan UM. Perkhidmatan ini disediakan untuk staf akademik dan pelajar pasca ijazah UM. Perpustakaan akan berusaha mendapatkan bahan ini daripada lain-lain Perpustakaan.
Perkhidmatan ini adalah kemudahan dimana pengguna boleh membuat pinjaman bahan dari perpustakaan lain selain UiTM . Ini boleh dibuat dengan mengisi borang pinjaman bahan dan diserahkan kepada pihak perpustakaan ( PTAR 1 ) . Pinjaman bahan akan dibuat sejurus borang pinjaman diterima. Perkhidmatan ini disediakan secara percuma melainkan bahan yang memerlukan salinan fotostat dari Perpustakaan lain.

Organisasi Profesi di Bidang Perpustakaan
  1. ATPUSI à Asosiasi Tenaga Perpustakaan Sekolah Indonesia.
Asosiasi Tenaga Perpustakaan Sekolah Indonesia adalah organisasi profesi tenaga perpustakaan sekolah berkedudukan didirikan di Jakarta pada tanggal 28 Mei 2009. ATPUSI merupakan organisasi profesi yang bersifat nasional dan mandiri. Dengan terbentuknya ATPUSI diharapkan keberadaan perpustakaan sekolah di setiap kabupaten dapat menjadi salah satu sarana belajar yang efektif bagi siswa siswi sekolah yang bersangkutan dan dapat menjadikan para tenaga perpustakaan sekolah menjadi lebih professional dan sebagai  wadah bagi pustakawan sekolah di seluruh Indonesia untuk menyampaikan aspirasinya. Visi ATPUSI adalah membentuk tenaga perpustakaan sekolah Indonesia yang profesional. Berbagai program dan kegiatan yang meningkatkan kompetensi dan profesionalisme tenaga perpustakaan sekolah menjadi prioritas utama. Di samping pengembangan karier dan kesejahteraannya sesuatu yang melekat di dalam perjuangan ATPUSI.                                            
Tujuan didirikannya ATPUSI adalah sebagai berikut:
·       meningkatkan profesionalisme tenaga perpustakaan sekolah;
·       mengembangkan ilmu perpustakaan, dokumentasi, dan informasi;
·       mengabdikan dan mengamalkan tenaga dan keahlian tenaga perpustakaan sekolah untuk bangsa dan Negara Republik Indonesia.
Untuk mencapai tujuan tersebut dalam pasal 8, ATPUSI melakukan berbagai kegiatan:
·       membina forum komunikasi antar tenaga perpustakaan sekolah dan atau kelembagaan perpustakaan, dokumentasi dan informasi.
·       mengadakan dan ikut serta dalam berbagai kegiatan ilmiah khususnya di bidang perpustakaan, dokumentasi dan informasi.
·       mengusahakan keikutsertaan ATPUSI dalam pelaksanaan program pemerintah dan pembangunan nasional di bidang perpustakaan sekolah, dokumentasi dan informasi.
·       mendukung program advokasi bagi tenaga perpustakaan sekolah.
  1. PAPSI à Perkumpulan Ahli Perpustakaan Seluruh Indonesia.
Berdiri pada tanggal 25 Maret 1954, pada saat penyelenggaraan Konferensi Perpustakaan Seluruh Indonesia, ditunjuk sebagai Ketua Rustam Sutan Palindih dan Ketua II Raden Patah dari Perpustakaan Negara Semarang. Tujuan didirikannya PAPSI, a.l. :
a. Mempertinggi pengetahuan Ilmu perpustakaan ≈ mempertinggi derjat anggotanya.
b. Menanam rasa cinta terhadap perpustakaan dan buku kepada umum.
  1. PAPADI à Perhimpunan Ahli Perpustakaan, Arsip dan Dokumentasi Indonesia.
Kongres pertama PAPSI tanggal 5 s.d. 7 April 1956 memutuskan nama organisasi tersebut menjadi Perhimpunan Ahli Perpustakaan, Arsip dan Dokumentasi Indonesia, susunan pengurusnya sama dengan PAPSI. PAPADI menyelenggarakan Kongres pertama di Jakarta pada tanggal 19 s.d. 22 Oktober 1957.
Pasal 2 Anggaran Dasar PAPADI menyatakan :
a.  Mempertinggi pengetahuan tentang Ilmu Perpustakaan, Arsip dan Dokumentasi dan ilmu-ilmu lain yang bersangkutan;
b. Memperluas dan menanam pengertian terhadap perpustakaan, arsip dan dokumentasi.
c.   membela kepentingan dan mempertinggi derajat para anggota.
  1. HPCI à Himpunan Pustakawan Chusus Indonesia
Karena kekosongan kegiatan APADI, dan tersedianya anggaran untuk perpustakaan menyebabkan beberapa pustakawan yang  bekerja pada perpustakaan khusus mengambil inisiatif mendirikan organisasi pustakawan yang mampu menampung aspirasi pustakawan perpustakaan khusus. Pada tanggal 5 Desember 1969 di Jakarta beridiri Himpunan Pustakawan Chusus Indonesia.  Tujuan HPCI dalam pasal 2 Anggaran Dasar :
1.     Membina perkembangan perpustakaan khusus di Indonesia.
2.     Memupuk hubungan antar anggota.
Kegiatan yang dilakukan mencakup diskusi ilmiah, ceramah serta menerbitkan Majalah Himpunan Pustakawan Khusus Indonesia.
            Samapai dengan bulan Desember 1972 tercatat 102  anggota HPCI yang terdiri dari  72 anggota perorangan, 25 anggota badan/lembaga dalam negeri serta 16 anggota khusus dari luar negeri. Dengan membaiknya kondisi ekonomi pada masa orde baru, mulai tahun 1969 perpustakaan memperoleh anggaran, baik anggaran rutin maupun anggaran pembangunan. Hal tersebut memacu kegiatan perpustakaan, kemudian berimbas munculnya berbagai kegiatan profesional di berbagai daerah. Pada masa tersebut timbul beberapa organisasi pustakawan, seperti Himpunan Pustakawan Chusus Indonesia, Himpunan Pustakwan Daerah Istimewa Yogyakarta, Ikatan Pustakawan Perguruan Tinggi se-Jawa Tengah, Ikatan Pustakawan Kelurahan DKI Jakarta, Ikatan Pustakawan Pesantren. Oraganisasi tersebut muncul karena banyak pustakwan yang belum merasakan kegiatan APADI.
  1. APADI à Asosiasi Perpustakaan, Arsip dan Dokumentasi Indonesia.
Anggota PAPADI yang tersebar di kota Jakarta, Bogor, Bandung, Yogyakarta, Semarang, Medan serta berbagai kota di Indonesia Timur dan Sunda Kecil (sekarang Nusa Tenggara). Tanggal 12 Juli 1962 dilaksanakan pertemuan antar cabang di Jakarta, pada saat itu disepakai perubahan nama menjadi Asosiasi Perpustakaan, Arsip dan Dokumentasi Indonesia (APADI).
            Dalam Anggaran dasar APADI pasal 3, dintakan bahwa tujuan asosiasi sbb. :
1.     Mengusahakan agar tercapai kesempurnaan sistem dan isi perpustakaan, arsip dan dokumentasi;
2.     mempertinggi pengetahuan tentang ilmu perpustakaan, arsi dan dokumentasi dan ilmu-ilmu lain yang bersangkutan.
3.     memperbanyak dan menanam pengertian terhadap perpustakaan, arsip dan dokumentasi.
4.     mempertinggi derajat para anggota.


Daftar Rujukan
Anonim. 2006. Peminjaman Antara Perpustakaan. (Online). (http://www.umlib.um.edu.my/scontents.asp?tid=24&cid=63&p=1&vs=bm#sthash.rcmunhVa.dpuf) diakses pada 19 Oktober 2014.
Anonim. 2011. Peminjaman Antara Perpustakaan. (Online), (http://library.uitm.edu.my/ptarfspu/index.php?option=com_content&view=article&id=40&Itemid=45) diakses pada 19 Oktober 2014.
Anonim. 2009. ATPUSI (http://perpussekolahku.blogspot.com/) diakses pada 19 Oktober 2014


 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar