IMPLEMENTASI
AUTOMASI PERPUSTAKAAN SEKOLAH
Oleh
Eva
Devita Emilia Siswanti
Mahasiswa D3 Perpustakaan UM
LATAR BELAKANG
Perpustakaan
merupakan tempat penyimpanan buku-buku, majalah, dan informasi aktual lainnya,
yang dibutuhkan pada saat seseorang ingin menambah pengetahuan dari tulisan
tersebut.Kehadiran perpustakaan bagi masyarakat bukan hanya menambah
pengetahuan saja tetapi juga dapat membantu mencipatakan teknologi sederhana di
dalam melakukan pekerjaannya.Konsep perpustakaan yang komvensioanal seperti di
atas telah berubah secara dramatik pada beberapa tahun belakangan ini. Di
negara-negara yang sudah maju, informasi yang ada pada suatu perpustakaan dapat
di akses di rumah, di kantor, di ruang kuliah, atau di tempat-tempat lain, dan
pada waktu kapanpun kita mau. Hal ini dapat terjadi karena perpustakaan
konvensioanal, yang sebelumnya hanya merupakan tempat penyimpanan buku-buku
yang secara pasif menunggu pembaca, menjadi suatu pusat informasi yang secara
proaktif berada dimana-mana.
Automasi
perpustakaan adalah sebuah proses pengelolaan perpustakaan dengan menggunakan
bantuan teknologi informasi (TI). (Nur:
2007) Dengan bantuan teknologi informasi
maka beberapa pekerjaan manual dapat dipercepat dan diefisienkan. Selain itu
proses pengolahan data koleksi menjadi lebih akurat dan cepat untuk ditelusur
kembali. Dengan demikian para pustakawan dapat menggunakan waktu lebihnya untuk
mengurusi pengembangan perpustakaan karena beberapa pekerjaan yang bersifat
berulang (repetable) sudah diambil alih oleh komputer.Automasi Perpustakaan
bukanlah hal yang baru lagi dikalangan dunia perpustakaan. Konsep dan
implementasinya sudah dilakukan sejak lama, namun di indonesia baru populer
baru-baru ini setelah perkembangan Teknologi Informasi di Indonesia mulai
berkembang pesat.
Perpustakaan sebagai institusi
pengelola informasi merupakan salah satu bidang penerapan teknologi informasi
yang berkembang dengan pesat.Perkembangan dari penerapan teknologi informasi
bisa kita lihat dari perkembangan jenis perpustakaan yang selalu berkaitan
dengan dengan teknologi informasi, diawali dari perpustakaan manual,
perpustakaan terautomasi, perpustakaan digital atau cyber library. Ukuran
perkembangan jenis perpustakaan banyak diukur dari penerapan teknologi
informasi yang digunakan dan bukan dari skala ukuran lain seperti besar gedung
yang digunakan, jumlah koleksi yang tersedia maupun jumlah penggunanya.
Kebutuhan akan TI sangat berhubungan dengan peran dari perpustakaan sebagai
kekuatan dalam pelestarian dan penyebaran informasi ilmu pengetahuan dan
kebudayaan yang berkembang seiring dengan menulis, mencetak, mendidik dan
kebutuhan manusia akan informasi.
TUJUAN DAN MANFAAT
a.
Tujuan
§
Untuk meningkatkan pelayanan,
mempercepat, mengefisienkan dan mengakurasipekerjaan pustakawan.
§
Untuk
memperluas dalam mengakses sebuah informasi antar perpustakaan.
§
Untuk
memenuhi tuntutan perkembangan dalam menguasai TI.
§
Untuk
menyebarluaskan informasi yang ada.
b.
Manfaat
§ Dengan
adanya otomasi perpustakaan makapekerjaan pustakawan lebih cepat dan efisien.
§ Dalam proses pengolahan data koleksi
menjadi lebih akurat dan cepat untuk ditelusur kembali.
§ Memberikan
layanan yang lebih baik kepada pengguna perpustakaan.
§ Dapat
mempercepat proses temu kembali
informasi di perpustakaan.
§ Citra perpustakaan jadi lebih meningkat karena memberikan
layanan yang bagus.
§ Memperlancar
proses pengolahan, pengadaan bahan pustaka, dan komunikasi antar perpustakaan.
AUTOMASI PERPUSTAKAAN
Automasi
perpustakaan adalah sebuah proses pengelolaan perpustakaan dengan menggunakan
bantuan teknologi informasi (TI). (Nur:
2007) Dengan bantuan teknologi informasi
maka beberapa pekerjaan manual dapat dipercepat dan diefisienkan. Selain itu
proses pengolahan data koleksi menjadi lebih akurat dan cepat untuk ditelusur
kembali. Dengan demikian para pustakawan dapat menggunakan waktu lebihnya untuk
mengurusi pengembangan perpustakaan karena beberapa pekerjaan yang bersifat
berulang (repetable) sudah diambil alih oleh komputer.Automasi Perpustakaan
bukanlah hal yang baru lagi dikalangan dunia perpustakaan. Konsep dan
implementasinya sudah dilakukan sejak lama, namun di indonesia baru populer
baru-baru ini setelah perkembangan Teknologi Informasi di Indonesia mulai
berkembang pesat.
INFRASTUKTUR
Sebuah Sistem
Automasi Perpustakaan pada umumnya terdiri dari 3 (Tiga) bagian, yaitu : (a)
Pangkalan Data, (b) User/Pengguna, dan (c) Perangkat Automasi. Ketiga komponen
automasi tersebut dijelaskan sebagai berikut:
a. Pangkalan
Data
Setiap
perpustakaan pasti tidak akan terlepas dari proses pengelolaan koleksi. Tujuan
dari proses ini untuk memperoleh data dari semua koleksi yang dimiliki dan
kemudian mengorgani-sirnya dengan menggunakan kaidah-kaidah ilmu perpustakaan. Pada
sistem manual, proses ini dilakukan dengan menggunakan bantuan media kertas
atau buku. Pencatatan pada kertas atau buku merupakan pekerjaan yang sangat
mudah namun juga merupakan suatu proses yang tidak efektif karena semua data
yang telah dicatat akan sangat sulit ditelusur dengan cepat jika jumlah sudah
berjumlah besar walaupun kita sudah menerapkan proses peng-indeks-an. Dengan
menggunakan bantuan teknologi informasi, proses ini dapat dipermudah dengan
memasukkan data pada perangkat lunak pengolah data seperti : CDS/ISIS
(WINISIS), MS Access, MySQL. Perangkat lunak ini akan membantu kita untuk
mengelola pangkalan data, ini menjadi lebih mudah karena proses pengindeksan
akan dilakukan secara otomatis dan proses penelusuran informasi akan dapat
dilakukan dengan cepat dan akurat karena perangkat lunak ini akan menampilkan
semua data sesuai kriteria yang kita tentukan.
b. User/Pengguna
Pengguna
otomasi adalah pustakawan, teknisi, dan anggota perpustakaan.Sebuah sistem
otomasi tidak terlepas dari pengguna sebagai penerima layanan dan seorang atau
beberapa operator sebagai pengelola sistem. Tugas pustakawan adalah melayanai
pengguna dan mengatur perpustakaan misalnya mengadakan kerja sama atua
mengadakan kegiatan- kegiatan di perpustakaan, Pada sistem otomasi perpustakaan
terdapat beberapa tingkatan operator atau teaga teknisi tergantung dari
tanggung jawabnya, yaitu : Supervisor,
Operator Administrasi, Operator Pengadaan dan Pengolahan, Operator Sirkulasi, Pemustaka adalah orang yang membutuhkan
perpustakaan otomasi perpustakan harus memenuhi kebutuhan dari penggunanya agar
tujuan perpustakaan tercapai.
c. Perangkat
Automasi
Perangkat
automasi yang dimaksud disini adalah perangkat atau alat yang digunakan untuk
membantu kelancaran proses automasi. Perangkat ini terdiri dari 2 bagian, yaitu
: 1. Perangkat Keras, dan 2. Perangkat Lunak Automasi. Tanpa adanya dua
perangkat ini secara memadai maka proses automasi tidak akan dapat berjalan
dengan baik.
1. Perangkat
Keras (Hardware).
Sebelum
memulai proses automasi, sebuah perangkat keras perlu disiapkan. Yang dimaksud
perangkat keras disini adalah sebuah komputer dan alat bantunya seperti
Printer, Barcode, Scanner, dan sebagainya. Empat buah komputer sudah cukup
untuk digunakan di dalam memulai proses automasi pada perpustakaan kecil dalam
hal ini perpustakaan sekolah. Sedangkan untuk perpustakaan besar, diperlukan
lebih banyak komputer dan pelengkapnya agar pelayanan kepada pengguna menjadi
lancar.Spesifikasi minimal biasanya
tergantung dari software yang digunakan. Misalnya, software senayan (program
automasi perpustakaan buatan Diknas RI) minimal menggunakan pentium III.Sebab
semakin banyak tampilan berbasis grafis (gambar) maka semakin membutuh-kan
spesifikasi yang tinggi.
2. Perangkat
Lunak Automasi (Software).
Sebuah
perpustakaan yang hendak menjalankan proses otomasi maka harus ada sebuah
perangkat lunak sebagai alat bantu. Perangkat lunak ini mutlak keberadaannya
karena digunakan sebagai alat pembantu mengefisienkan dan mengefektifkan
proses.
Ada
3 (tiga) cara untuk memperoleh perangkat lunak ini, antara lain :
·
Membangun sendiri dengan bantuan seorang
developer perangkat lunak. Jika instansi Anda mempunyai tenaga programer maka
langkah pertama ini bisa dilakukan karena dapat menghemat biaya membeli
perangkat lunak otomasi.
·
Menggunakan perangkat lunak gratis atau
opensource, misalnya : CDS/ISIS, WinISIS, KOHA, dsb. Perangkat lunak ini bisa
didapatkan dari internet karena didistribusikan secara gratis kepada kalangan
perpustakaan. Walaupun gratis perangkat lunak ini masih banyak kekurangan dan
masih harus dimodifikasi lebih lanjut agar memenuhi kebutuhan di tempat kerja.
·
Membeli perangkat lunak komersial
beserta training dan supportnya yang dibangun oleh pihak ketiga. Perangkat
lunak komersial, merupakan hasil riset pengembangnya dan mudah untuk
diimplementasikan karena hanya perlu dilakukan perubahan fitur sedikit atau
tidak sama sekali. Training dan Support selama beberapa periode waktu juga akan
diberikan oleh vendor secara penuh sehingga pengguna dapat langsung menggunakan
tanpa harus bersusah payah lagi. Pilihan ini dapat dipilih jika terdapat dana
untuk membeli perangkat lunak. Suatu software dikembangkan melalui suatu
pengamatan dari suatu sistem kerja yang berjalan, untuk menilai suatu software
tentu saja banyak kriteria yang harus diperhatikan.
SUMBER DAYA MANUSIA PERPUSTAKAAN
AUTOMASI
Pustakawan dalam mengelola automasi perpustakaan harus
sesuai dengan kemampuan dan harus mengetahui kebutuhan dari pengguna automasi
perpustakaan sekolah.Hal Ini bertujuan agar sistem otomasi terintegrasi dan
sesuai dengan kebutuhan perpustakaan sekolah.
Hal-hal yang harus dilakukan oleh
pustakawan dalam mengautomasikan perpustakaan
a.
Pustakawan
dapat memehami ruang lingkup dan unsur dari automasi perpustakaan.
b.
Pustakawan
dapat memahami dan dapat mengapresiasi pentingnya melaksanakan analisis sistem
yang menyeluruh sebelum merencanakan desain sistem
c.
Pustakawan
memahami dan bisa mengapresiasi manfaat analisis sistem dan desain,
implementasi evaluasi dan maintenance.
d.
Memahami
proses evaluasi software sejalan dengan proposal sebelum menentukan sebuah
sistem otomasi.
e.
Pustakawan
dapat mengapresiasi pentingnya pelatihan untuk staf dan keterlibatan mereka
dalam seluruh proses kerja. (Subrata, 2009).
Kriteria
administrator automasi perpustakaan sekolah
Oleh
karenanya seseorang yang ditunjuk sebagai administrator sistem harus:
Ø Operator
dapat menguasai komputer dan jaringan computer sehingga dapat membuat jaringan
yang sesuai kebutuhan perpustakaan sekolah dengan dana yang tersedia.
Ø Operator
dapat menguasai aplikasi yang diterapkan di perustkaan sekolah terutama bagian
yang dia kerjakan.
Ø Menguasai
operating system sehingga dapat membuat dan mengubah sistem sistem bila ada
perubahan kebutuhan.
Ø Operator
mempunyai pengetahuan perpustakaan secara keseluruhan terutama dalam bidang
teknologi informasi.
Ø Operator
memahami tatakerja/manajemen perpustakaan yang ada dalam perpustakaan..sekolah.
Ø Operator
mempunyai komitmen terhadap tugas sehingga dalam pekerjaanya mempunyai etos
kerja yang tinggi dan tujuan yang jelas.
Ø Operator
mampu bekerja sama dengan organisasi atau perorangan sehingga pekerjaanya lebih
fleksibel dan mudah ditempatkan dimana saja.
Ø Operator
mempunyai wawasan yang luas tertama dalam lingkup subjek bahan pustaka yang
dihadapi dan teknologi informasi.
Ø Operator
selalu bersedia mengembangakan ilmu dan ketrampilannya baik formal maupu informal.
Pada sistem automasi perpustakaan terdapat beberapa
tingkatan operator tergantung dari tanggung jawabnya, yaitu :
· Supervisor.
Supervisor
yaitu operator dengan wewenang tertinggi. Supervisor dapat mengakses dan
mengatur beberapa konfigurasi dari sistem dan dapat melakukan proses auditing.
· Operator Administrasi
Operator
administrasi mengatur proses:
1. pendaftaran anggota berupa identitas
anggota, id anggota, masa berlaku, institusi, tipe keanggtaan, dan waktu
pendaftaran.
2. pelaporan berupa daftar anggota,
pelaporan pengadaan dan lain-lain.
3. Beberapa proses yang digunakan untuk
urusan administrasi misalnya pembuatan kartu, ekspor dan impor data
· Operator Pengadaan dan Pengolahan.
Operator
ini mengatur proses pengadaan dan pengolahan koleksi bahan pustaka yaitu:
1. Proses pemasukan data berupa
identitas buku, klasifikaasi, nomor registrasi, dan pengaturan bahan pustaka
lainnya.
2. Proses finishing misalnya cetak
barcode, nomor register, pencetakan catalog, penampilan opac, lidah buku dan
label punggung.
· Operator Sirkulasi.
Operator
ini berfungsi untuk melayani pengguna yang melakukan peminjaman, pengembalian,
memperpanjang bahan pustaka, sejarah peminjaman, dan preservasi.
·
Operator
Referensi
o
Mencarikan bahan referensi di internet,
melayani korespondensi via email, via forum di newsgroup, bimbingan
pengguna, dll.
o Mengatur aturan transasi peminjaman, anggota
perpustakaan, buku yang sedang di pinjam
o Kegiatan stock opname, mengecek buku yang
hilang,
o Laporan kegiatan yang hilang, informasi
seputar peminjaman, informasi keanggoataan, hasil rekaptulasi perpustakaan,
daftar peminjaman, memperlihatkan aktifitas staf, Mengelola kegiatan serial,
o Mengubah sistem otomasi, menentukan wewenang
user,
PENTUP
a.
Kesimpulan
Automasi
perpustakaan adalah sebuah proses pengelolaan perpustakaan dengan menggunakan
bantuan teknologi informasi (TI). (Nur:
2007) Dengan bantuan teknologi informasi
maka beberapa pekerjaan manual dapat dipercepat dan diefisienkan. Selain itu
proses pengolahan data koleksi menjadi lebih akurat dan cepat untuk ditelusur
kembali. Dengan demikian para pustakawan dapat menggunakan waktu lebihnya untuk
mengurusi pengembangan perpustakaan karena beberapa pekerjaan yang bersifat
berulang (repetable) sudah diambil alih oleh komputer.
Beberapa
hal yang harus diketahui dan dikerjakan oleh pustakawan dalam mengautomasikan
perpustakaannya adalah:
Ø Paham
akan maksud dan ruang lingkup dan unsur dari AP (automasi perpustakaan)
Ø Paham
dan bisa mengapresiasi pentingnya melaksanakan analisis sistem yang menyeluruh
sebelum merencanakan desain system
Ø Paham
akan dan bisa mengapresiasi manfaat analisis sistem dan desain, implementasi,
evaluasi dan maintenance.
Ø Paham
akan proses evaluasi software sejalan dengan
proposal sebelum menentukan sebuah system.
Ø Paham
akan dan bisa mengapresiasi pentingnya pelatihan untuk staf dan keterlibatan mereka
dalam seluruh proses kerja Menurut Arif
, Sebuah Sistem automasi Perpustakaan
pada umumnya terdiri dari 3 (Tiga) bagian, komponen tersebut yaitu : Pangkalandatauser/pengguna,
dan perangkat automasi.
Ø Perangkat
automasi terdiri dari 2 (dua) bagian, yaitu : perangkat keras, dan perangkat lunak
automasi.
DAFTAR
RUJUKAN
Nur, Hassan. 2007. Otomasi Perpustakaan.(Online),
(http://librarycorner.org/2007/02/28/otomasi-Perpustakaan/html) diakses pada 15 September 2014.
Arif,
Ikhwan. 2003. Konsep dan Perencanaan
dalam Automasi Perpustakaan. (Online), (http://aurajogja.wordpress.com/2006/07/11/otomasi-perpustakaan/html)
diakses pada 15 september 2014.
Subrata,
Gatot. 2009. Automasi Perpustakaan. ( Online), (http://library.um.ac.id/images/stories/pustakawan/kargto/Automasi%20Perpustakaan.pdf)
diakses pada 15 September 2014.
Kosasih,
Aa. Otomasi Perpustakaan Sekolah. (Online), (http://library.um.ac.id/images/stories/pustakawan/karsasih/Otomasi%20Perpustakaan%20Sekolah.pdf) diakses pada 15 September 2014.
Eva
Devita Emilia Siswanti
120213314493
Inter
Library Loan atau istilah dari Peminjaman
antar Perpustakaan
Pinjaman antara perpustakaan merupakan perkhidmatan
yang disediakan oleh Perpustakaan bagi mendapatkan buku yang anda perlukan
tetapi tiada dalam koleksi Perpustakaan UM. Perkhidmatan ini disediakan untuk
staf akademik dan pelajar pasca ijazah UM. Perpustakaan akan berusaha
mendapatkan bahan ini daripada lain-lain Perpustakaan.
Perkhidmatan ini adalah kemudahan
dimana pengguna boleh membuat pinjaman bahan dari perpustakaan lain selain UiTM
. Ini boleh dibuat dengan mengisi borang pinjaman bahan dan diserahkan kepada
pihak perpustakaan ( PTAR 1 ) . Pinjaman bahan akan dibuat sejurus borang
pinjaman diterima. Perkhidmatan ini disediakan secara percuma melainkan bahan
yang memerlukan salinan fotostat dari Perpustakaan lain.
Organisasi Profesi di Bidang Perpustakaan
- ATPUSI à Asosiasi Tenaga Perpustakaan Sekolah Indonesia.
Asosiasi
Tenaga Perpustakaan Sekolah Indonesia adalah organisasi profesi tenaga perpustakaan
sekolah berkedudukan didirikan di Jakarta pada tanggal 28 Mei 2009. ATPUSI
merupakan organisasi profesi yang bersifat nasional dan mandiri. Dengan
terbentuknya ATPUSI diharapkan keberadaan perpustakaan sekolah di setiap
kabupaten dapat menjadi salah satu sarana belajar yang efektif bagi siswa siswi
sekolah yang bersangkutan dan dapat menjadikan para tenaga perpustakaan sekolah
menjadi lebih professional dan sebagai
wadah bagi pustakawan sekolah di seluruh Indonesia untuk menyampaikan
aspirasinya. Visi ATPUSI adalah membentuk tenaga perpustakaan sekolah Indonesia
yang profesional. Berbagai program dan kegiatan yang meningkatkan kompetensi
dan profesionalisme tenaga perpustakaan sekolah menjadi prioritas utama. Di
samping pengembangan karier dan kesejahteraannya sesuatu yang melekat di dalam
perjuangan ATPUSI.
Tujuan
didirikannya ATPUSI adalah sebagai berikut:
· meningkatkan profesionalisme tenaga
perpustakaan sekolah;
· mengembangkan ilmu perpustakaan,
dokumentasi, dan informasi;
· mengabdikan dan mengamalkan tenaga
dan keahlian tenaga perpustakaan sekolah untuk bangsa dan Negara Republik
Indonesia.
Untuk mencapai tujuan tersebut dalam
pasal 8, ATPUSI melakukan berbagai kegiatan:
· membina forum komunikasi antar tenaga
perpustakaan sekolah dan atau kelembagaan perpustakaan, dokumentasi dan
informasi.
· mengadakan dan ikut serta dalam
berbagai kegiatan ilmiah khususnya di bidang perpustakaan, dokumentasi dan
informasi.
· mengusahakan keikutsertaan ATPUSI
dalam pelaksanaan program pemerintah dan pembangunan nasional di bidang
perpustakaan sekolah, dokumentasi dan informasi.
· mendukung program advokasi bagi
tenaga perpustakaan sekolah.
- PAPSI à Perkumpulan Ahli Perpustakaan Seluruh Indonesia.
Berdiri
pada tanggal 25 Maret 1954, pada saat penyelenggaraan Konferensi Perpustakaan
Seluruh Indonesia, ditunjuk sebagai Ketua Rustam Sutan Palindih dan Ketua II
Raden Patah dari Perpustakaan Negara Semarang. Tujuan didirikannya PAPSI, a.l.
:
a. Mempertinggi pengetahuan Ilmu
perpustakaan ≈ mempertinggi derjat anggotanya.
b. Menanam rasa cinta terhadap
perpustakaan dan buku kepada umum.
- PAPADI à Perhimpunan Ahli Perpustakaan, Arsip dan Dokumentasi Indonesia.
Kongres
pertama PAPSI tanggal 5 s.d. 7 April 1956 memutuskan nama organisasi tersebut
menjadi Perhimpunan Ahli Perpustakaan, Arsip dan Dokumentasi Indonesia,
susunan pengurusnya sama dengan PAPSI. PAPADI menyelenggarakan Kongres pertama
di Jakarta pada tanggal 19 s.d. 22 Oktober 1957.
Pasal 2 Anggaran Dasar PAPADI
menyatakan :
a. Mempertinggi pengetahuan tentang Ilmu Perpustakaan, Arsip
dan Dokumentasi dan ilmu-ilmu lain yang bersangkutan;
b. Memperluas dan menanam pengertian
terhadap perpustakaan, arsip dan dokumentasi.
c. membela kepentingan dan mempertinggi derajat para anggota.
- HPCI à Himpunan Pustakawan Chusus Indonesia
Karena kekosongan kegiatan APADI,
dan tersedianya anggaran untuk perpustakaan menyebabkan beberapa pustakawan
yang bekerja pada perpustakaan khusus mengambil inisiatif mendirikan
organisasi pustakawan yang mampu menampung aspirasi pustakawan perpustakaan
khusus. Pada tanggal 5 Desember 1969 di Jakarta beridiri Himpunan Pustakawan
Chusus Indonesia. Tujuan HPCI dalam pasal 2 Anggaran Dasar :
1. Membina
perkembangan perpustakaan khusus di Indonesia.
2. Memupuk
hubungan antar anggota.
Kegiatan yang dilakukan mencakup
diskusi ilmiah, ceramah serta menerbitkan Majalah Himpunan Pustakawan Khusus
Indonesia.
Samapai dengan bulan Desember 1972 tercatat 102 anggota HPCI yang terdiri
dari 72 anggota perorangan, 25 anggota badan/lembaga dalam negeri serta
16 anggota khusus dari luar negeri. Dengan membaiknya kondisi ekonomi pada masa
orde baru, mulai tahun 1969 perpustakaan memperoleh anggaran, baik anggaran
rutin maupun anggaran pembangunan. Hal tersebut memacu kegiatan perpustakaan,
kemudian berimbas munculnya berbagai kegiatan profesional di berbagai daerah.
Pada masa tersebut timbul beberapa organisasi pustakawan, seperti Himpunan
Pustakawan Chusus Indonesia, Himpunan Pustakwan Daerah Istimewa Yogyakarta,
Ikatan Pustakawan Perguruan Tinggi se-Jawa Tengah, Ikatan Pustakawan Kelurahan
DKI Jakarta, Ikatan Pustakawan Pesantren. Oraganisasi tersebut muncul karena
banyak pustakwan yang belum merasakan kegiatan APADI.
- APADI à Asosiasi Perpustakaan, Arsip dan Dokumentasi Indonesia.
Anggota PAPADI yang tersebar di kota
Jakarta, Bogor, Bandung, Yogyakarta, Semarang, Medan serta berbagai kota di
Indonesia Timur dan Sunda Kecil (sekarang Nusa Tenggara). Tanggal 12 Juli 1962
dilaksanakan pertemuan antar cabang di Jakarta, pada saat itu disepakai
perubahan nama menjadi Asosiasi Perpustakaan, Arsip dan Dokumentasi
Indonesia (APADI).
Dalam Anggaran dasar APADI pasal 3, dintakan bahwa tujuan asosiasi sbb. :
1.
Mengusahakan agar tercapai kesempurnaan sistem dan isi perpustakaan, arsip dan
dokumentasi;
2.
mempertinggi pengetahuan tentang ilmu perpustakaan, arsi dan dokumentasi dan
ilmu-ilmu lain yang bersangkutan.
3.
memperbanyak dan menanam pengertian terhadap perpustakaan, arsip dan
dokumentasi.
4.
mempertinggi derajat para anggota.
Daftar Rujukan
Anonim.
2006. Peminjaman Antara Perpustakaan. (Online). (http://www.umlib.um.edu.my/scontents.asp?tid=24&cid=63&p=1&vs=bm#sthash.rcmunhVa.dpuf)
diakses pada 19 Oktober 2014.
Anonim.
2011. Peminjaman Antara Perpustakaan. (Online), (http://library.uitm.edu.my/ptarfspu/index.php?option=com_content&view=article&id=40&Itemid=45)
diakses pada 19 Oktober 2014.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar